• Masih pentingkah belajar ngoding di era AI?

    Belakangan ini kita sering dengar dua kubu ekstrem mengenai bagaimana AI akan menggantikan para programmer.

    Satu bilang, “Sekarang mah tinggal pakai AI, ngapain belajar coding?”

    Satu lagi bilang, “Kalau tidak bisa ngoding, siap-siap tergilas zaman.”

    Dua-duanya tidak sepenuhnya benar. Dan seperti biasa, situasinya tidak sesimpel itu.

    Belajar coding itu penting. Tapi di era AI, ada satu hal yang lebih penting dari sekadar bisa ngoding, yaitu cara berpikir konseptual.

    Ngoding Itu Seperti Menggoreng

    Menggoreng itu skill teknis. Ada tekniknya. Api harus pas, minyak panas, jangan terlalu sering dibalik. Kalau sering latihan, siapa pun bisa jadi jago goreng. Sama seperti coding. Dengan latihan, siapa pun bisa jago bikin fungsi, API, atau query database.

    Tapi pertanyaannya satu: untuk apa kamu menggoreng?

    Kalau kamu cuma jago menggoreng, tapi tidak tahu mau masak apa, ya cuma bisa asal goreng aja. Padahal yang menentukan masakan itu berharga atau tidak bukan cuma teknik masaknya, tapi konsep hidangannya.

    Konsep Itu Seperti Menu, Bumbu, dan Gizi

    Orang yang benar-benar memasak akan mikir:

    • Mau masak apa hari ini?
    • Untuk siapa?
    • Gizinya cukup atau tidak?
    • Bumbunya seberapa banyak?
    • Proteinnya dari mana?

    Ini semua wilayah konseptual, bukan teknis. Di dunia kerja modern, ini setara dengan:

    • Masalah apa yang mau diselesaikan?
    • Untuk siapa produk ini?
    • Dampaknya apa bagi sosial dan lingkungan?
    • Skalanya bagaimana?
    • Etis atau tidak?

    AI hari ini sudah bisa membantu banyak urusan teknis: menulis kode, debugging, desain awal, analisis data. Artinya, peran “menggoreng”-nya makin mudah diotomatisasi. Tapi AI tidak tahu menu apa yang ingin kita hidangkan untuk masyarakat. Itu tetap akan menjadi tugas manusia.

    Data yang mendukung

    Dalam laporan Future of Jobs Report dari World Economic Forum, skill yang paling dibutuhkan di masa depan bukan skill teknis semata, melainkan:

    • Analytical thinking
    • Creative thinking
    • Problem solving
    • Systems thinking

    Artinya, dunia kerja justru makin mencari orang yang kuat di cara berpikir, bukan cuma di eksekusi teknis.

    Sementara itu, riset dari McKinsey Global Institute menunjukkan bahwa sekitar 60–70 persen pekerjaan di masa depan akan mengalami otomatisasi sebagian, bukan hilang total. Yang berubah bukan manusianya, tetapi perannya bergeser dari pelaku teknis menjadi pengarah keputusan, perancang sistem, dan penentu strategi.

    Di bidang pendidikan, UNESCO menegaskan bahwa AI seharusnya memperkuat kapasitas berpikir manusia, bukan menggantikannya. AI diposisikan sebagai alat bantu berpikir, bukan otak pengganti manusia.

    Masalah Sebenarnya Bukan AI, Tapi Cara Kita Belajar

    Bahaya terbesar hari ini bukan AI menggantikan manusia, tetapi manusia yang sejak awal hanya dilatih jadi tukang eksekusi tanpa diajak berpikir tentang:

    • Untuk apa pekerjaannya
    • Dampaknya apa
    • Arahnya ke mana

    Kalau dari awal kita hanya dikejar:

    • “Yang penting bisa”
    • “Yang penting cepat”
    • “Yang penting jadi”

    Tanpa pernah diajak bertanya “kenapa” dan “ke mana”, maka saat AI datang dengan perkembangannya yang pesat, kita panik sendiri. Padahal yang tergeser bukan manusianya, tetapi peran yang terlalu sempit.

    Jadi, Masih Perlu Belajar Coding?

    Jawabannya: iya, tapi jangan berhenti di situ.

    Belajar coding itu seperti belajar menggoreng, memotong, merebus, memanggang. Semua itu penting sebagai alat. Tapi yang lebih menentukan adalah kemampuan:

    • Menyusun menu
    • Menakar bumbu
    • Mengatur nilai gizi
    • Menentukan tujuan masakan

    Di era AI, yang paling bernilai bukan lagi “siapa yang paling cepat mengetik”, tapi siapa yang paling jernih menentukan arah.

    AI adalah kompor yang sangat canggih. Tapi tetap manusia yang menentukan: mau masak apa untuk dunia.